📘 Semester 1 – Bahasa Jawa
1. Piwulang Basa Krama (Unggah-ungguh Basa)
Bahasa Jawa memiliki sistem unggah-ungguh basa atau tata krama berbahasa yang sangat penting, digunakan sesuai dengan situasi dan siapa lawan bicaranya. Secara umum, terdapat tiga tingkatan: Ngoko, Krama Madya, dan Krama Inggil. Ngoko digunakan dalam percakapan akrab, misalnya kepada teman sebaya: “Aku arep lunga.” Sedangkan Krama digunakan untuk berbicara sopan, misalnya kepada orang tua: “Kula badhe tindak.” Pemilihan tingkat bahasa menunjukkan sopan santun dan menghargai orang lain.
2. Tembung (Kosa Kata)
Dalam bahasa Jawa, tembung atau kata dibagi menjadi tiga jenis utama, yaitu tembung lingga (kata dasar), tembung andhahan (kata turunan), dan tembung camboran (gabungan dua kata). Contohnya, dari kata dasar tulis dapat terbentuk kata turunan seperti nulis, katulis, dan ditulisi. Penguasaan bentuk-bentuk tembung ini sangat penting dalam memahami dan membentuk kalimat Jawa yang tepat.
3. Aksara Jawa
Aksara Jawa adalah sistem tulisan tradisional yang terdiri dari beberapa jenis huruf, seperti aksara carakan (huruf pokok), pasangan (untuk menghilangkan vokal a pada suku kata sebelumnya), sandhangan (penanda bunyi), dan aksara murda (huruf kapital). Contoh transliterasi dalam aksara Jawa adalah tulisan “Sastra Jawa” yang ditulis sebagai: ꦱꦱ꧀ê¦ ê¦«ê¦—ê¦®. Pembelajaran aksara ini bertujuan melestarikan warisan budaya tulis masyarakat Jawa.
4. Paribasan, Bebasan, Saloka
Bahasa Jawa kaya akan ungkapan tradisional seperti paribasan, bebasan, dan saloka. Paribasan adalah ungkapan yang maknanya tetap dan tidak berubah, misalnya “Jer basuki mawa bea” yang berarti keberhasilan memerlukan pengorbanan. Bebasan adalah perumpamaan, seperti “Abot pikirane” (banyak beban pikiran). Sementara saloka adalah pepatah yang biasanya mengandung nasihat hidup, contohnya: “Gupak asor” yang berarti terlibat dalam perkara memalukan.
5. Tembang Macapat
Tembang macapat merupakan puisi tradisional Jawa yang mengikuti aturan baku berupa guru wilangan (jumlah suku kata) dan guru lagu (akhiran bunyi). Setiap jenis tembang memiliki fungsi dan suasana yang berbeda. Misalnya, tembang Pangkur biasanya digunakan untuk memberikan nasihat, sementara Dandanggula menggambarkan keindahan dan kelembutan. Contoh baris dalam tembang Pangkur adalah “Nora pisan den angkara” yang berarti “tidak pernah berlaku angkara.”
📙 Semester 2 – Bahasa Jawa
6. Cerita Rakyat Jawa
Cerita rakyat Jawa merupakan cerita turun-temurun yang berkembang secara lisan dan berisi nilai moral serta budaya. Contohnya termasuk Roro Jonggrang, Jaka Tarub, dan Ande-Ande Lumut. Struktur cerita rakyat biasanya terdiri atas tokoh (paraga), latar, alur, serta amanat atau pesan. Cerita rakyat bukan hanya hiburan, tetapi juga alat pembelajaran karakter dan sejarah lokal.
7. Pidato Bahasa Jawa
Pidato dalam bahasa Jawa terdiri dari berbagai jenis, seperti pidato sambutan, pengarahan, dan panampi tamu. Dalam menyampaikan pidato, penting untuk menyesuaikan bahasa dengan lawan bicara menggunakan unggah-ungguh basa. Struktur pidato umumnya terdiri atas salam pambuka (pembukaan), isi pidato, dan panutup (penutupan), yang harus disampaikan dengan sopan dan runtut.
8. Wawancara dalam Bahasa Jawa
Wawancara (wawancara basa Jawa) bertujuan untuk mengumpulkan informasi dari narasumber. Proses ini dilakukan dengan langkah-langkah seperti menyiapkan pertanyaan, melakukan wawancara dengan tata bahasa yang sopan (krama), dan menyusun laporan hasil wawancara. Kemampuan wawancara melatih siswa untuk berkomunikasi dan menulis secara informatif.
9. Geguritan
Geguritan adalah puisi bebas berbahasa Jawa yang tidak terikat pada aturan seperti tembang macapat. Geguritan biasanya digunakan untuk mengungkapkan ekspresi perasaan atau pandangan terhadap alam, cinta, maupun kritik sosial. Karena bebas dari aturan jumlah suku kata dan rima, geguritan memberi ruang ekspresi kreatif bagi penulisnya.
10. Carita Pendek (Cerpen Jawa)
Cerpen dalam bahasa Jawa memiliki struktur umum seperti cerpen pada umumnya, yakni eksposisi (pengenalan), konflik, klimaks, dan solusi. Ciri khas cerpen Jawa adalah ringkas, tokoh terbatas, dan sarat nilai budaya serta kearifan lokal. Cerita pendek ini dapat menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa dengan cara yang sederhana namun bermakna.





